Narative.id Malang · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Sejarah Budaya

Tradisi Karo Tetap Dijaga, Jejak Adat Tengger Bertahan di Lereng Bromo Malang

Masyarakat Tengger di Kabupaten Malang masih mempertahankan Hari Raya Karo dan berbagai ritual adat sebagai bagian dari identitas budaya serta warisan leluhur di kawasan Bromo-Tengger.
Tradisi Hari Raya Karo menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Tengger yang masih dipertahankan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ritual adat tersebut menjadi bagian dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat Tengger.
Tradisi Hari Raya Karo menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Tengger yang masih dipertahankan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ritual adat tersebut menjadi bagian dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat Tengger. · Foto: Dokumentasi/NARATIVE.ID
NARATIVE.ID, MALANG — Tradisi masyarakat Tengger masih bertahan di lereng Bromo, Kabupaten Malang. Salah satunya Hari Raya Karo yang hingga kini tetap dijaga masyarakat Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo.

Hari Raya Karo merupakan salah satu tradisi penting masyarakat Tengger yang dilaksanakan pada bulan kedua dalam kalender Tengger. Rangkaian tradisi berlangsung melalui sejumlah tahapan adat dan melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan ritual maupun sosial.

Kepala Desa Ngadas, Mujianto, mengatakan Karo menjadi salah satu tradisi yang terus dipertahankan masyarakat. Selain memiliki nilai adat, perayaan tersebut juga menjadi momentum mempererat hubungan antarwarga.

“Rangkaian Karo berlangsung dalam beberapa tahapan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tengger,” ujar Mujianto kepada NARATIVE.ID saat dihubungi melalui telepon seluler, Minggu (4/10/2026).

Jejak tradisi Tengger tidak hanya terlihat di Desa Ngadas. Di sejumlah wilayah lain di Kecamatan Poncokusumo, praktik adat dan ruang ritual masyarakat Tengger juga masih dipertahankan.

Di Desa Poncokusumo, misalnya, terdapat Sanggar Pamujan di Blok Senin. Tempat tersebut digunakan untuk sejumlah kegiatan adat, termasuk Karo, selamatan desa, dan Nyadran.

Ketua Lembaga Adat Desa Satya Dharma Wikrama Poncokusumo, Mohammad Fanif Ario F, mengatakan keberadaan Sanggar Pamujan menjadi bagian dari jejak ritual masyarakat Tengger yang hingga kini masih dijaga.

“Sejarah berdirinya belum bisa dipastikan secara tepat. Namun keberadaannya sudah berlangsung sejak masa yang sangat lama,” katanya.

Tradisi adat juga masih dijalankan masyarakat di Dusun Kunci, Desa Wringinanom. Ki Randi Dipa Nalendra menjadi salah satu pemangku adat yang terlibat dalam pelaksanaan ritual masyarakat Tengger di wilayah tersebut.

Keberadaan berbagai ritual tersebut menunjukkan bahwa adat Tengger tidak hanya hadir sebagai kegiatan seremonial. Bagi masyarakat setempat, adat menjadi bagian dari kehidupan sosial sekaligus cara menjaga identitas dan warisan leluhur.

Di tengah perkembangan pariwisata kawasan Bromo-Tengger dan perubahan zaman, keberlangsungan tradisi Karo serta berbagai ritual adat lainnya menjadi bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Malang yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
PRAYITNO
PRAYITNO
Reporter / Redaksi Narative.id Malang

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT