NARATIVE.ID Malang, – Masyarakat Jawa Timur diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi menyusul ancaman cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi hingga 9 November 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Kondisi tersebut berisiko memicu banjir, tanah longsor, angin puting beliung hingga hujan es.
Peringatan dini tersebut berlaku pada 2-9 November 2026. Sejumlah wilayah di Jawa Timur masuk dalam daerah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan, meliputi Kabupaten Probolinggo, Kota dan Kabupaten Pasuruan, Jember, Lumajang, Kota dan Kabupaten Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Banyuwangi, Kota dan Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Pacitan, Kota dan Kabupaten Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Kota Batu, serta Magetan.
Prakirawan BMKG Karangploso, Kabupaten Malang, Linda Fitrotul menjelaskan, sebagian besar wilayah Jawa Timur saat ini mulai memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Dalam tujuh hari ke depan, dinamika atmosfer diperkirakan mendukung terbentuknya awan hujan yang berpotensi berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
BMKG mengidentifikasi sejumlah faktor pemicu, di antaranya gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi Jawa Timur, pola pertemuan angin atau konvergensi, serta suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan.
Kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan konvektif. Akibatnya, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi dan dapat disertai petir serta angin kencang.
Di sisi lain, Linda mengingatkan peningkatan curah hujan tidak serta-merta menunjukkan seluruh wilayah Malang Raya telah memasuki musim penghujan.
Peningkatan curah hujan pada dasarian III Oktober 2026 dipengaruhi gangguan atmosfer MJO dan gelombang Rossby yang berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Peningkatan curah hujan yang terjadi pada periode dasarian III Oktober 2026 dipengaruhi oleh gangguan cuaca MJO dan Rossby yang berlangsung bersamaan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)," beber Linda saat dikonfirmasi, Selasa (3/11/2026).
OMC tersebut berlangsung pada 24-29 Oktober 2026. Fokus pelaksanaannya berada di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan Gunung Arjuno, Welirang, Argopuro, serta TPA Supiturang.
Linda menjelaskan, penetapan awal musim hujan memiliki indikator tersendiri dan tidak hanya didasarkan pada peningkatan curah hujan dalam beberapa hari.
"Karena penentuan awal musim hujan ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 dasarian berikutnya," tegasnya.
BMKG mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah rawan banjir, longsor, dan pohon tumbang.
Masyarakat juga diminta mewaspadai perubahan cuaca mendadak, menghindari aktivitas di kawasan rawan bencana saat hujan lebat, serta terus memantau informasi peringatan dini dari BMKG.
(han/her)


▶
▶
▶
▶







Narative.id Jawa Tengah · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Tengah · Ekonomi & Usaha
Narative.id Jawa Tengah · Kesehatan
NARATIVE.ID · Kebijakan & Politik
NARATIVE.ID · Kesehatan
Narative.id Jawa Tengah · Ekonomi & Usaha
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Tengah · Olahraga

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR