Narative.id Malang · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Sejarah Budaya

Menelusuri Ngliyep: Jejak Bung Karno, Labuhan hingga Mitos Sendang Kamulyan

Reporter Narative.id menelusuri jejak sejarah Bung Karno dan tradisi labuhan di Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam, Donomulyo, Kabupaten Malang, termasuk cerita masyarakat yang masih membutuhkan penelusuran sejarah lebih lanjut.
Pantai Ngliyep di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, menjadi lokasi penelusuran sejarah lokal dan tradisi labuhan oleh reporter Narative.id, Kamis (1/10/2026).
Pantai Ngliyep di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, menjadi lokasi penelusuran sejarah lokal dan tradisi labuhan oleh reporter Narative.id, Kamis (1/10/2026). · Foto: Dok. Narative.id / Prayitno

NARATIVE.ID, MALANG — Perjalanan reporter Narative.id menelusuri jejak sejarah dan kearifan lokal berlanjut ke Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Penelusuran yang menjadi bagian dari perjalanan Jejak Kearifan Amartya Bhumi Kepanjian bertema “Menjelajah Histori dan Harmoni” itu membawa tim melewati sejumlah desa, mulai Sumberoto, Purworejo hingga Kedungsalam.

Masing-masing wilayah menyimpan cerita. Namun, perjalanan memasuki bagian yang berbeda ketika tim tiba di kawasan Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam.

Di balik bentang pesisir selatan yang telah lama dikenal sebagai salah satu kawasan wisata Kabupaten Malang, Ngliyep menyimpan tradisi dan cerita yang masih hidup di tengah masyarakat.

Salah satunya adalah Labuhan Pantai Ngliyep, tradisi yang diwariskan lintas generasi masyarakat Kedungsalam.

Catatan kebudayaan mengenai Labuhan Ngliyep menyebut tradisi tersebut telah berlangsung sejak masa tokoh yang dikenal sebagai Mbah Atun. Dalam perkembangannya, tradisi itu menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat setempat dan berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur, ungkapan rasa syukur serta berbagai kepercayaan masyarakat pesisir selatan. 

Cerita Bung Karno di Pantai Ngliyep

Selain menelusuri tradisi Labuhan, reporter Narative.id menemukan cerita sejarah yang masih dituturkan masyarakat mengenai Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, atau Bung Karno.

Kepala Desa Kedungsalam, Misdi, mengatakan di tengah masyarakat berkembang cerita turun-temurun bahwa Bung Karno pernah singgah di kawasan Pantai Ngliyep.

“Bung Karno diyakini pernah berpuisi Aku Melihat Indonesia saat di Pantai Ngliyep ini. Tetapi belum diketahui teks asli puisinya dan tahun berapa dibuat. Ini kami harapkan bisa digali,” kata Misdi kepada reporter Narative.id, Kamis (1/10/2026).

Cerita itu menjadi salah satu temuan menarik selama perjalanan. Namun, keberadaan Bung Karno di Pantai Ngliyep maupun keterkaitan puisi Aku Melihat Indonesia dengan kawasan tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip, dokumentasi, dan sumber sejarah yang dapat diverifikasi.

Justru di situlah perjalanan ini menemukan maknanya. Cerita yang hidup di tengah masyarakat tidak cukup sekadar dipercaya atau ditolak. Ia perlu dicatat, ditelusuri dan dipertemukan dengan sumber-sumber sejarah.

Sendang Kamulyan dan Cerita yang Hidup di Tengah Warga

Tidak jauh dari kawasan Ngliyep, perjalanan membawa tim ke Sendang Kamulyan.

Di tempat inilah reporter Narative.id bertemu Mbah Bejo, sesepuh sekaligus juru kunci Sendang Kamulyan.

Sendang tersebut tidak hanya dipandang sebagai sumber air. Di tengah masyarakat, berbagai cerita tutur dan mitos berkembang dari generasi ke generasi.

Salah satu cerita yang beredar menyebut Sendang Kamulyan pada masa lalu dikaitkan dengan sosok ular besar bernama Antaboga. Dalam cerita rakyat itu, Antaboga digambarkan sebagai penjaga sumber air sebelum kemudian muncul kisah seorang pengembara bernama Dipo Atmojo.

Cerita tersebut berada dalam wilayah legenda dan tradisi lisan, sehingga tidak dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah tanpa bukti pendukung. Namun, keberadaannya menunjukkan bagaimana masyarakat membangun hubungan antara tempat, alam, leluhur dan ingatan kolektif mereka. Salah satu dokumen cerita lokal yang beredar memang mencatat versi kisah Antaboga dan Dipo Atmojo tersebut, meski sumber itu bukan dokumentasi sejarah primer.

Mitos lain juga berkembang mengenai Sendang Kamulyan sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual bagi sebagian masyarakat. Cerita semacam ini masih dituturkan oleh warga dan pengunjung, sehingga menjadi bagian dari folklor kawasan Kedungsalam.

Bagi Narative.id, cerita-cerita tersebut menjadi penting bukan untuk menentukan apakah sebuah mitos benar atau tidak, melainkan untuk mencatat bagaimana masyarakat memaknai sebuah tempat.

Labuhan dan Ingatan Kolektif Kedungsalam

Penelusuran kemudian mempertemukan reporter dengan pegiat budaya serta pelaku tradisi Labuhan atau larung sesaji dari Kujang Mas Tirto Samudro.

Tradisi Labuhan Ngliyep sendiri memiliki jejak dokumentasi yang cukup panjang. Penelitian terbaru Universitas Negeri Surabaya mencatat cerita asal-usul Labuhan berkaitan dengan pagebluk yang pernah melanda Kedungsalam. Dalam tradisi tutur tersebut, Eyang Atun dan Eyang Tholib melakukan semedi sebelum kemudian muncul wangsit untuk menyelenggarakan Labuhan. 

Sementara Pemerintah Kabupaten Malang mencatat Labuhan Gunung Kombang masih diselenggarakan sebagai tradisi masyarakat Kedungsalam dan dipandang sebagai ungkapan syukur serta bagian dari pelestarian warisan budaya lokal.

Perjalanan di Ngliyep akhirnya tidak hanya berbicara tentang pantai.

Di kawasan ini terdapat cerita manusia, tradisi, kepercayaan, ingatan tentang leluhur hingga fragmen sejarah yang masih menunggu untuk ditelusuri lebih jauh.

Pantai Ngliyep, Sendang Kamulyan dan Gunung Kombang menjadi ruang tempat cerita lama tetap hidup berdampingan dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sejarah lokal tidak selalu tersimpan rapi di dalam buku atau arsip.

Sebagiannya masih hidup melalui tutur para sesepuh, ritual masyarakat, nama-nama tempat dan cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Narative.id | Laporan Perjalanan

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
PRAYITNO
PRAYITNO
Reporter / Redaksi Narative.id Malang

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT