Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul, menjelaskan Hari Tanpa Bayangan terjadi ketika matahari mencapai titik kulminasi, yakni posisi tertinggi dalam lintasan hariannya jika diamati dari suatu wilayah.
"Kalau di Malang terjadi pukul 11.15 WIB tadi," ujar Linda saat dikonfirmasi Narative.id Rabu (14/10/2026).
Saat mencapai titik kulminasi, posisi matahari berada hampir tegak lurus di atas suatu wilayah. Kondisi tersebut membuat bayangan benda yang berdiri tegak menjadi sangat pendek, bahkan tampak seolah-olah menghilang jika dilihat dari sudut tertentu.
"Jadi kulminasi ini kerap disebut Hari Tanpa Bayangan, karena memang posisi matahari tepat berada di atas kepala atau posisi tertinggi," ungkapnya.
Meski demikian, istilah Hari Tanpa Bayangan tidak berarti seluruh bayangan benar-benar lenyap. Bayangan masih dapat terlihat, bergantung pada bentuk benda, posisi matahari, dan sudut pengamatan.
Bukan Penanda Pergantian Musim
Linda menyebut fenomena Hari Tanpa Bayangan berlangsung bergantian di sejumlah wilayah Jawa Timur sejak pertengahan Oktober 2026. Perbedaan waktu terjadinya fenomena tersebut dipengaruhi letak geografis masing-masing daerah.
Namun, masyarakat perlu membedakan fenomena astronomis dengan kondisi meteorologis. Posisi matahari saat kulminasi tidak dapat dijadikan acuan tunggal untuk menentukan awal musim hujan, kemarau, maupun pancaroba.
Menurut Linda, pergantian musim ditentukan melalui dinamika atmosfer dan perkembangan curah hujan di suatu wilayah, bukan semata-mata berdasarkan posisi matahari.
"Peralihan musim ditentukan berdasarkan dinamika atmosfer dan perkembangan curah hujan di suatu wilayah, bukan semata-mata berdasarkan posisi matahari," pungkasnya.
Masyarakat Tetap Perlu Waspada Paparan Matahari
BMKG juga meluruskan anggapan bahwa Hari Tanpa Bayangan otomatis menyebabkan suhu udara melonjak drastis. Suhu harian dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya tutupan awan dan dinamika atmosfer.
Kendati tidak secara langsung membahayakan masyarakat, paparan sinar matahari di sekitar tengah hari tetap perlu diwaspadai. Aktivitas luar ruangan saat cuaca terik dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas.
Masyarakat disarankan mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta membatasi aktivitas fisik berat di bawah terik matahari.
Fenomena Hari Tanpa Bayangan pun dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal pergerakan semu matahari sepanjang tahun. Namun, untuk memahami perubahan cuaca dan musim, masyarakat tetap perlu merujuk pada informasi meteorologi resmi dari BMKG.


▶
▶
▶
▶
▶
▶






Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR