Respons siswa menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengevaluasi model layanan MBG tersebut. Sistem prasmanan juga dinilai berpotensi menekan sisa makanan karena siswa tidak harus mengambil menu yang tidak disukai.
Salah satu siswa kelas VIII SMPN 1 Kepanjen, Hana, mengaku lebih menyukai penyajian prasmanan dibandingkan makanan yang dibagikan dalam bentuk paket.
Menurutnya, makanan terasa lebih nikmat karena lauk masih hangat dan segar. Siswa juga dapat memilih menu serta menyesuaikan porsi makanan yang diambil.
"Lebih enak model prasmanan, karena lauknya lebih hangat. Lebih fresh dan segar. Kami juga bisa ambil secukupnya. Kalau ada lauk yang tidak kita suka, kita enggak ambil. Jadi lebih praktis," kata Hana kepada wartawan, Jumat (16/10/2026).
Sisa Makanan Jadi Catatan Evaluasi
QSekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Nurul Sri Utami, mengatakan hasil evaluasi sementara menunjukkan siswa merespons positif model prasmanan. Menurutnya, makanan yang disajikan hampir seluruhnya habis karena siswa dapat menentukan sendiri menu dan porsi yang diinginkan.
"Evaluasi dari kami, anak-anak ternyata suka dengan model MBG prasmanan. Hampir semuanya habis, tidak ada yang tersisa karena mereka bisa memilih sendiri sesuai porsi dan kesukaan mereka," ungkap Nurul.
Ia menilai, kebebasan memilih makanan dapat membantu mengurangi potensi makanan terbuang. Dalam sistem paket, siswa berpotensi tidak menghabiskan makanan ketika mendapat lauk yang kurang disukai. Sementara melalui prasmanan, siswa dapat melewati menu tertentu dan mengambil makanan sesuai selera.
Meski demikian, kualitas makanan tetap menjadi perhatian. Menu yang disajikan, termasuk lauk, susu, dan buah-buahan, perlu dipastikan segar serta memiliki kandungan gizi sesuai kebutuhan siswa.
Masuk Pilot Project di 61 Titik
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Chusni Mubarok, menjelaskan SMPN 1 Kepanjen merupakan salah satu dari 61 titik pilot project MBG model prasmanan di Indonesia.
Uji coba tersebut berlangsung selama beberapa hari dan berakhir pada Jumat (16/10). Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi sebelum model penyajian tersebut dipertimbangkan untuk diterapkan secara permanen.
Chusni mengatakan, salah satu faktor yang memengaruhi respons siswa adalah suhu makanan saat disajikan. Sistem rantai panas atau hot chain diterapkan untuk menjaga suhu makanan sejak dari dapur hingga meja prasmanan.
"Hasil evaluasi kami, banyak siswa lebih suka karena makanan lebih fresh dan enak. Dari dapur, rantai panas makanan dipertahankan hingga menuju meja prasmanan, sehingga suhunya tetap terjaga. Suhu makanan dipertahankan hingga 60 derajat," jelasnya.
Namun, menurut Chusni, penerapan model prasmanan secara permanen masih membutuhkan sejumlah perbaikan. Aspek waktu makan, variasi menu, dan teknis pelaksanaan di sekolah akan menjadi bahan masukan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
"Kalau kita ingin model prasmanan ini dipermanenkan, tentunya ada beberapa hal yang harus diperbaiki, misalnya waktu makannya. Kami dari Malang juga selalu mengusulkan agar program MBG ini masuk dalam kurikulum," katanya.
Ia berpandangan, program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan mengenai pola hidup sehat, kebersamaan, dan pembiasaan perilaku positif, termasuk berdoa sebelum makan.
Masukan Siswa Jadi Bahan Perbaikan
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, H Ma'ruf Mubarok atau yang akrab disapa Gus Mamak, menyebut respons siswa menjadi catatan penting dalam evaluasi program MBG.
Menurutnya, sejumlah siswa berharap menu yang dinilai enak dapat dipertahankan. Masukan tersebut dinilai perlu diperhatikan agar kualitas makanan dan pelayanan program dapat terus diperbaiki.
"Anak-anak di SMPN 1 Kepanjen lebih suka MBG model prasmanan. Katanya enak sekali. Makanan lebih hangat dan fresh," ujar Gus Mamak.
"Anak-anak minta agar menunya enak-enak dan dipertahankan. Hal itu menjadi catatan kami. Karena program ini memang betul-betul luar biasa," tuturnya.
Uji coba di SMPN 1 Kepanjen pun menjadi bahan untuk melihat apakah model prasmanan dapat menjawab kebutuhan siswa sekaligus mengurangi makanan terbuang. Evaluasi lebih lanjut tetap diperlukan, terutama terkait kecukupan gizi, keamanan pangan, pengaturan waktu makan, dan kesiapan pelaksanaan di sekolah.
Dengan demikian, keberhasilan model ini tidak hanya diukur dari respons positif siswa, tetapi juga dari konsistensi mutu makanan dan efektivitas layanan dalam memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.


▶
▶
▶
▶
▶
▶

Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Timur · Kebijakan & Politik
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR