Besarnya volume bantuan tersebut menyisakan pertanyaan mendasar: sampai kapan kebutuhan air bersih warga harus dipenuhi melalui pengiriman tangki, dan bagaimana solusi agar masyarakat memiliki akses air yang lebih berkelanjutan?
Kecamatan Sumbermanjing Wetan atau Sumawe menjadi salah satu wilayah yang terus menerima pasokan. Pada Sabtu (10/10), BPBD menyalurkan 20.000 liter air bersih ke Desa Sitiarjo dan 15.000 liter ke Desa Kedungbanteng. Puskesmas Sitiarjo juga menerima pasokan 5.000 liter.
Distribusi pada hari itu dilakukan menggunakan lima armada dengan total 18 rit pengiriman ke sejumlah wilayah Kabupaten Malang. Secara keseluruhan, volume air yang disalurkan mencapai 83.050 liter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan kondisi di lapangan.
“Kami tetap siaga 24 jam dengan dua shift untuk menghadapi bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Monitoring terus dilakukan di 33 kecamatan, termasuk wilayah yang membutuhkan distribusi air bersih,” ujar Sadono.
Ribuan Warga Masih Membutuhkan Pasokan
Catatan kumulatif BPBD menunjukkan dampak kekeringan menjangkau ribuan keluarga di sejumlah desa.
Di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Desa Sumberagung telah menerima 495.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan 1.245 kepala keluarga (KK) atau 3.818 jiwa.
Desa Sitiarjo menerima total 440.000 liter untuk sekitar 505 KK atau 1.928 jiwa. Sementara Desa Kedungbanteng telah menerima 390.000 liter untuk 788 KK atau 2.184 jiwa.
Kebutuhan besar juga tercatat di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. Wilayah ini telah menerima 1.016.700 liter air bersih untuk membantu sekitar 1.035 KK atau 3.105 jiwa yang terdampak kekeringan.
Selain Sumbermanjing Wetan dan Sumberpucung, distribusi air bersih juga menjangkau wilayah Kecamatan Gedangan, Donomulyo, Kalipare, dan Pagak.
Data tersebut memperlihatkan besarnya upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Namun, jumlah air yang telah disalurkan belum dengan sendirinya menjelaskan apakah kebutuhan setiap keluarga sudah terpenuhi secara memadai.
Distribusi Tangki dan Tantangan Solusi Jangka Panjang
BPBD Kabupaten Malang memastikan personel tetap siaga selama 24 jam untuk merespons laporan masyarakat. Pemantauan dilakukan melalui radio komunikasi, internet, SMS, WhatsApp, hingga layanan pusat panggilan.
“Kami terus memonitor perkembangan di seluruh wilayah. Siaga dilakukan 24 jam agar ketika ada kebutuhan air bersih maupun kejadian lain bisa segera ditindaklanjuti,” tegas Sadono.
Penanganan kekeringan melibatkan BPBD Kabupaten Malang bersama PMI, Damkar, PJT I Karangkates, Perumda Tirta Kanjuruhan, AMCF, perangkat desa, Puskesmas Sitiarjo, Buana Solusindo, dan Marva Telekomunikasi.
Distribusi tangki menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan air ketika sumber air warga terbatas. Namun, untuk mengetahui sejauh mana persoalan ini bisa diselesaikan, diperlukan informasi lebih lanjut mengenai kondisi sumber air, penyebab berkurangnya pasokan, serta rencana penanganan jangka panjang di desa-desa terdampak.
Pemerintah daerah juga perlu menjelaskan apakah terdapat program penguatan sumber air, perbaikan jaringan distribusi, atau pembangunan sarana penampungan yang dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan tangki.
Sebab, bagi masyarakat yang kesulitan memperoleh air, persoalannya bukan hanya berapa liter bantuan yang datang setiap hari, melainkan seberapa terjamin akses air bersih ketika bantuan tidak lagi dikirimkan.


▶
▶
▶
▶
▶
▶
▶






Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR