Narative.id Malang · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Lingkungan & Bencana

Mencekam! TPA Supiturang Malang Terbakar Hebat, Gas Metana Meledak dan Asap Kepung Permukiman

Kebakaran TPA Supiturang, Kota Malang, membakar hampir satu hektare area sampah dan memicu suara ledakan yang diduga berkaitan dengan gas metana. Asap pekat menyebar hingga permukiman di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, dan dikeluhkan warga karena menyebabkan sesak napas. Meski api utama berhasil diredam, 50–70 titik api kecil masih ditangani petugas untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Kebakaran TPA Supiturang di Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (21/10/2026), memicu kepulan asap tebal dan menyisakan puluhan titik api kecil. Asap dilaporkan hingga permukiman warga di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Kebakaran TPA Supiturang di Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (21/10/2026), memicu kepulan asap tebal dan menyisakan puluhan titik api kecil. Asap dilaporkan hingga permukiman warga di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. · Foto: Dok Prayitno/ Narative
NARATIVE.ID Malang,– Kebakaran hebat melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (21/10/2026). Kobaran api membakar bukit sampah seluas hampir satu hektare, disertai suara ledakan dari dalam tumpukan limbah yang diduga berkaitan dengan kandungan gas metana.

Tak hanya mengancam keselamatan petugas pemadam kebakaran, peristiwa tersebut juga berdampak pada warga di sekitar lokasi. Kepulan asap pekat disertai bau menyengat dilaporkan merembet hingga permukiman di wilayah Kabupaten Malang.

Asap hitam pertama kali terlihat membubung sekitar pukul 13.00 WIB. Langit di sekitar kawasan Sukun berubah kecokelatan akibat kepulan asap yang terus membesar.

Situasi di sekitar TPA sempat diperketat. Warga dan awak media dilarang mendekati gerbang lokasi karena proses penanganan masih berlangsung.

"Masih dalam penanganan, perintah pimpinan media dilarang masuk," ujar seorang petugas keamanan yang berjaga di gerbang TPA Supiturang, Rabu siang.

Sementara itu, warga setempat bernama Toni mengaku mengetahui kebakaran ketika api sudah membesar dan asap mulai menutupi langit.

"Tahunya sudah besar gini, Mas. Sampai langitnya gelap," tuturnya.

Angin Kencang Bikin Api Cepat Merambat
Kepala Satpol PP Kota Malang, Prayitno, menyebut dugaan awal kebakaran mengarah pada aktivitas pembakaran sampah di sisi selatan area penampungan. Percikan api diduga terbawa angin kencang hingga merambat ke bagian utara.

Kondisi rumput kering selama musim kemarau turut mempercepat penyebaran kobaran api. Sekitar 70 persen bukit sampah di sisi selatan dilaporkan terbakar.

"Kemungkinan ada wilayah selatan ada orang bakar sampah, sehingga percikannya karena tiupan angin itu lari ke arah utara. Dan sekarang terbakar hampir seluas satu hektare," kata Prayitno.

Ia menambahkan, angin kencang menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.

"Tiupan angin kencang ini adalah kendala yang membuat kami sulit memadamkan," imbuhnya.

Meski demikian, dugaan mengenai sumber awal api tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Petugas Dihadapkan Ancaman Gas Metana
Upaya pemadaman melibatkan sekitar 50 personel gabungan dari Damkar Kota Malang, Damkar Kabupaten Malang, serta unit pemadam dari pihak swasta.

Namun, petugas tidak hanya menghadapi kobaran api yang terlihat di permukaan. Kandungan gas dari tumpukan sampah turut meningkatkan risiko selama proses penanganan.

Kepala UPT Damkar Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan, mengatakan beberapa kali terdengar suara ledakan dari dalam tumpukan sampah yang terbakar.

"Tumpukan sampah ini mengandung gas metana, yang tadi beberapa kali juga sempat terjadi suara ledakan," terang Pandu.

Menurut dia, tantangan terbesar adalah keberadaan hidden fire atau titik api tersembunyi di bagian dalam tumpukan sampah.

Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu menandakan seluruh sumber panas telah hilang. Bara di bagian bawah masih berpotensi bertahan dan kembali memicu kebakaran apabila tidak ditangani secara menyeluruh.

"Atasnya sudah padam, namun masih terkandung hidden fire atau api-api tersembunyi yang kita masih belum tahu berapa kedalamannya di bawah permukaan tanah atau permukaan tumpukan," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus dilanjutkan dengan penyiraman dan pembasahan secara intensif untuk mengurangi kemungkinan api kembali membesar.

Asap TPA Masuk Permukiman, Warga Mengeluh Sesak Napas
Dampak kebakaran tidak berhenti di area TPA. Asap dilaporkan mencapai Perumahan Austinville, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, yang berada di sebelah utara lokasi kebakaran.

Warga mengeluhkan bau menyengat dan gangguan pernapasan akibat kabut asap yang bertahan selama berjam-jam.

Otto, salah seorang warga terdampak, mengatakan asap mulai masuk ke kawasan perumahan sejak Rabu siang dan masih terasa hingga malam.

"Kabut asap dari siang pukul 2-an sudah masuk perumahan. Sampai malam pukul 21.00 WIB tadi kabut asap masih ada. Sesak kena kabut asap, baunya menyengat," kata Otto.

Keluhan tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran TPA tidak hanya berkaitan dengan penanganan api, tetapi juga potensi gangguan kualitas udara bagi masyarakat di sekitar lokasi.

Meski demikian, tingkat pencemaran udara dan dampak kesehatan yang ditimbulkan belum dapat dipastikan tanpa hasil pemantauan atau pemeriksaan lebih lanjut dari instansi terkait.

Puluhan Titik Api Masih Mengintai
Hingga Rabu malam sekitar pukul 22.35 WIB, kobaran api utama dilaporkan berhasil diredam. Namun, kondisi tersebut belum berarti kebakaran sepenuhnya selesai.

Prayitno menyebut masih terdapat puluhan titik api kecil yang harus ditangani petugas.

"Sekarang sudah menjadi spot-spot kecil api. Mungkin ada sekitar 50 sampai 70 titik api kecil. Kami masih siaga hingga besok pagi," pungkasnya.

Petugas dijadwalkan tetap bersiaga hingga Kamis pagi untuk melakukan penyiraman dan pembasahan di area terdampak, terutama pada bagian tumpukan sampah yang berpotensi menyimpan bara api.

Peristiwa ini kembali menyoroti risiko kebakaran di kawasan pengolahan sampah, khususnya ketika material kering, angin kencang, dan gas yang dihasilkan dari timbunan limbah menjadi faktor yang memperberat penanganan.

Selain memastikan seluruh titik api padam, pemantauan kondisi udara di permukiman terdampak juga menjadi hal penting untuk melindungi keselamatan warga.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
#Kota Bergerak#Warga
Prayitno
Prayitno
Reporter / Redaksi Narative.id Malang

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT